Diujung rumput yang menghijau, berdua memandang gagahnya puncak Gunung Ndolceen. Saling terdiam, tapi berkata, saling menggenggam penuh cinta.
Ijong bukan seorang pangeran memang. Tidak pula berkendara kuda putih dengan mahkota berkilau. Ijong hanya pemuda tulus penuh cinta dengan kendaraan Sky Line. Tidak begitu istimewa, namun cukup untuk melindungi Pingki dari panasnya surya,
dinginnya bayu dan basahnya hujan.
Sebagaimana remaja pada umumnya, yang saling meniru. Tanpa malu, ungkapan cinta mereka wujudkan dengan memadukan bibir, dibawah naungan jembatan pelangi memberi. Bukan intan berlian, sebongkah emas, hanya setangkai bunga.
Cinta mereka berdua tidak memandang kebendaan. Ijong berlutut, setangkai kelopak merah tersemat disela jari, segera menanti digapai oleh Pingki. Tak selamanya manis memang. Kerikil tajam, darah, keringat, air mata, menghiasi sepasang pecinta.
Bagai seekor iblis yang mengincar dari kejauhan, menunggu sampai ...Iblis ... Butuh kesadaran, pemahaman, kelapangan hati, dari salah satu untuk menyadari ancamannya.
Meraba, merasa, peka ... Bertindak...segera. Perjuangkan, apa yang pantas untuk diperjuangkan. Raih, lindungi, peluk erat . Jangan sampai .... Terlambat ....
Hal yang paling menyakitkan adalah saat kita berharap terlalu jauh tetapi terhempas dalam sekejap. Kita tidak lagi bersama, hanya tinggal AKU...Engkau tinggal masalalu. KITA adalah sejarah.
Jangan mencintai seseorang seperti bunga, karena bunga mati kala musim berganti. Cintailah ia seperti cahaya matahari, yang sinarnya menghangatkan bumi sepanjang zaman.
Cinta tidak mengajarkan kita untuk lemah, cinta adalah pembangkit kekuatan. Cinta bukan mengajarkan kita menghinakan diri, tapi cinta menghembuskan kegagahan. Cinta tidak melehamkan semangat, tetapi membangkitkan semangat (-HAMKA).
kisah Ijong dan Pingki
Diujung rumput yang menghijau, berdua memandang gagahnya puncak Gunung Ndolceen. Saling terdiam, tapi berkata, saling menggenggam penuh cinta.
Ijong bukan seorang pangeran memang. Tidak pula berkendara kuda putih dengan mahkota berkilau. Ijong hanya pemuda tulus penuh cinta dengan kendaraan Sky Line. Tidak begitu istimewa, namun cukup untuk melindungi Pingki dari panasnya surya,
dinginnya bayu dan basahnya hujan.
Sebagaimana remaja pada umumnya, yang saling meniru. Tanpa malu, ungkapan cinta mereka wujudkan dengan memadukan bibir, dibawah naungan jembatan pelangi memberi. Bukan intan berlian, sebongkah emas, hanya setangkai bunga.
Cinta mereka berdua tidak memandang kebendaan. Ijong berlutut, setangkai kelopak merah tersemat disela jari, segera menanti digapai oleh Pingki. Tak selamanya manis memang. Kerikil tajam, darah, keringat, air mata, menghiasi sepasang pecinta.
Bagai seekor iblis yang mengincar dari kejauhan, menunggu sampai ...Iblis ... Butuh kesadaran, pemahaman, kelapangan hati, dari salah satu untuk menyadari ancamannya.
Meraba, merasa, peka ... Bertindak...segera. Perjuangkan, apa yang pantas untuk diperjuangkan. Raih, lindungi, peluk erat . Jangan sampai .... Terlambat ....
Hal yang paling menyakitkan adalah saat kita berharap terlalu jauh tetapi terhempas dalam sekejap. Kita tidak lagi bersama, hanya tinggal AKU...Engkau tinggal masalalu. KITA adalah sejarah.
Jangan mencintai seseorang seperti bunga, karena bunga mati kala musim berganti. Cintailah ia seperti cahaya matahari, yang sinarnya menghangatkan bumi sepanjang zaman.
Cinta tidak mengajarkan kita untuk lemah, cinta adalah pembangkit kekuatan. Cinta bukan mengajarkan kita menghinakan diri, tapi cinta menghembuskan kegagahan. Cinta tidak melehamkan semangat, tetapi membangkitkan semangat (-HAMKA).

